Archive by Author | gadisrakus

4 Bakso Enak di Jogja Versi Gadisrakus

Iya, judulnya mesti gitu. Soalnya kalau gak gitu ntar ada aja yang protes “khak, bakso itu sih gak enak yang enak yang ini” atau “khak, yang jual bakso itu kan jomblo” πŸ˜‘ Jadi daripada saya kesel sendiri mending dibikin versi saya aja, jadi ya suka-suka saya. Mwahahaha *evil laugh*

Anyway saya itu penggemar berat bakso bisa tiap hari makan tanpa bosan. Jadi saya cencunya punya standar sendiri bakso enak menurut saya. Okeee…cuss kita tengok..

# Bakso Pak Narto


Bakso Pak Narto ini salahsatu yang lumayan terkenal di Jogja, cabangnya ada banyak salasatunya dekat kost saya di daerah Gejayan (seberang Bebek Pak Slamet). Saya lumayan sering makan di sini, selain karena enak juga paling dekat secara lokasi jadi tinggal ngesyot. Saking seringnya semua menu udah saya cobain dan kayaknya kalau mereka keluarin member card mungkin saya udah dapat loyalty point yang cukup banyak #yakeles Bakso Pak Narto ada yang jumbo dan ada yang kecil, walaupun gak gitu garing tapi cukup kenyal dan terasa dagingnya. Ciri khas bakso Pak Narto ini gak seperti bakso Jawa lainnya yang pakai tahu dan bakso goreng. Kuah kaldunya juga enak, kadang saya minta ekstra satu mangkok lagi buat dikokop (serius!). Mi ayamnya juga lumayan enak. Harganya sekitar 14k per porsi. 

# Bakso Uleg Temanggung


Bakso uleg ini lumayan lama lho berdiri, seinget saya jaman saya masih sekolah bahasa di Jogja tahun 2009-2010 udah ada. Lokasinya ada di Jl. Gejayan juga (dekat gang masuk jembatan merah, pas dipojoknya). Yang unik dari bakso uleg ini, gak ada sambelnya, jadi kalau mau pedas tinggal minta uleg berapa cabe di mangkoknya. Dan kalau gak suka kecap, bisa dibilang ke masnya soalnya kadang suka langsung diguyur kecap. Ciri khas lainnya adalah ada tambahan ketupat dan tahu goreng tapi tidak pakai mie dan sayuran. Kuah kaldunya lumayan enak, gurih tapi terasa agak bermecin. Baksonya garing dan terasa daging sapinya, rasanya sedikit seperti bakso supermarket. Cuma buat saya ya enak-enak aja. Harga per porsi 11.5k (tanpa ketupat). 

# Bakso Jawi Bu Miyar


Bakso Bu Miyar juga termasuk yang banyak cabangnya di Jogja, yang saya cobain ini di daerah Jogonegaran (seberang Ibis Style). Seperti namanya bakso Jawi, bakso ini dilengkapi dengan bakso goreng dan tahu goreng. Btw bakso gorengnya enak, walau agak keras kalau gak dicemplungin dulu ke kuahnya. Dan menurut saya bakso bu Miyar ini paling mahal diantara yang lain sekitar 20k/porsi dan ekstra bakso gorengnya dihargai 5k/pcs. Cuma ya enak mau gimana lagi 😝

# Bakso Urat Arema Dr Yap


Bakso Arema yang berlokasi di jl. Teuku Cik Di Tiro (seberang RS Mata Dr Yap) ini termasuk yang legend juga karena udah lama berdiri #gakcapekapaya tempatnya gak fancy dan bukan berupa resto/kios, tapi tenda di trotoar! Tapi yang beli masyaallah ampe antri-antri. Kalau yang doyan urat sih pasti doyan, karena bakso uratnya cukup terasa uratnya (walau gak sekasar bakso uratnya Pak Narto!), kalau saya gak terlalu doyan urat jadi agak terganggu ya tau gitu minta bakso halus aja, kuahnya cukup gurih tapi overall rasanya sih sebenernya menurut saya B aja, tapi ya okelah kalau lagi di sekitaran sana dan pengen makan bakso! Harga lupa~tapi kayaknya gak lebih dari 15k. 

Selain keempat bakso di atas saya juga pernah coba Bakso Bethesda (tapi yang di foodcourt Amplaz, bukan yang di kantin RS. cukup penasaran juga sih karena udah dua kali kesana selalu kecele karena kalau gak keabisan, ya lagi tutup). Tapi kalau bakso Bethesda yang di foodcourt Amplaz sih rasanya sama aja kayak bakso franchise-an lainnya disamping harganya yang cukup mencekik. Saya juga ingat sekitar tahun 2009-2010 dulu sempat heits Bakso Kepala Sapi, yang anak Jogja nanya dong itu tempat masih ada ga sih? 

Sekian review perbaksoan saya yang geje ini. Ciao! 

Advertisements

(Main Ke Pasar) – Pasar Beringharjo

Sebetulnya masih banyak nih materi kuliner sisa kemarin bertapa di Jogja, kayaknya mau saya selesaiin sekarang aja biar ga numpuk banget. Gadisrakus tuh sebenernya suka banget hunting kuliner di pasar tradisional kalau lagi pergi ke kota atau negara lain. Karena biasanya banyak yang jual makanan lokal. Salahsatunya Pasar Beringharjo yang terkenal sebagai pusat batik. Oke saya rekap aja ya kuliner Pasar Beringharjo yang wajib dicobain kalau lagi disana…mayankan recharge energi abis nawar batik 

# Sego Empal Bu Warno


Salahsatu kuliner Beringharjo yang wajib coba adalah empal Bu Warno yang berlokasi di bagian timur pasar. Ancer-ancernya masuk ke pasar lewat pintu belakang Jl. Pabringan (yang dekat Taman Budaya) terus naik ke lantai 2. Kiosnya dekat yang jual buah-buahan. Berbeda dengan sego empal Mbok Wignyo yang cenderung manis, empal Bu Warno bercitarasa gurih, selera sih tapi saya lebih suka yang gurih-gurih. Dan dagingnya juga gak full daging seperti mbok Wig, bu Warno punya dicampur dengan sandung lamur. Persamaan keduanya sama-sama empuk dan dimakan pakai sambal bawang super pedas. Ada menu sayur asam sebagai tambahan lauk bila suka. Total kerusakan termasuk sayur asam dan teh hangat 23k. 

Note: nggak jauh dari kios bu Warno ini ada juga empal bu Jum, hosipnya sih dia mantan tukang masak di bu Warno. Waktu itu disuggest kesini pas mau bawa pulang empal ke Jakarta karena kios bu Warno tutup, secara rasa emang gak beda jauh sih tapi tetep bu Warno lebih enak kalau menurut saya. 

# Soto Pites Mbah Galak 


Soto Mbah Galak ini ternyata salahsatu yang lumayan legendaris di pasar ini. Terbukti pas saya kesana rame aja yang makan, padahal kiosnya kecil dan agak pengap. Soto Pites ini basically adalah soto kudus tapi ditambahin cabe yang dipites langsung di mangkoknya. Kita bisa request berapa banyak cabe yang dimau tanpa keluar extra cost, asal jangan request cabe sekebon aja πŸ˜‚ Sotonya lumayan seger dan pedasss (tentu saja) tapi sayang dikit banget porsinya. Rata-rata yang dateng sih pesen 2 mangkok. Total kerusakan soto, kerupuk, perkedel dan es teh adalah 15k aja. Mureeee..oh iya ini lokasinya juga di sebelah timur pasar tapi di lantai 1nya. 

# Soto Daging Bu Pujo 


Soto Bu Pujo yang berlokasi gak jauh dari Empal Bu Warno ini juga termasuk yang laris manis tanjung kimpul. Menu yang ditawarin seingat saya cuma soto ayam atau soto daging. Saya waktu nyobain soto dagingnya, lumayan seger, kuah kaldunya gurih tapi gak berlebihan, dagingnya lumayan banyak dan empuk. Cuma ya itu, porsinya sikit. Kayaknya harus minimal 2 mangkok juga sih kalau mau kenyang. Harga 15k/porsi.

# Pecel Senggol


Katanya gak lengkap ke Beringharjo tanpa nyicipin pecel senggolnya, itu lho ibuk-ibuk yang jual pecel di luar pasar. Sebenernya saya gak terlalu suka pecel sih, tapi demi pengen ngerasain suasananya yah dicoba lah. Saya beli di ibuk yang mangkal di sebelah kiri pintu keluar (arah ke Benteng Vrederburg). Sebenernya random mau makan yang mana aja menunya default kok alias itu-itu aja. Saya pesan pecel dengan mi goreng seharga 10k aja. Kalau laper boleh tambah nasi atau lontong, plus lauk-lauk yang tersedia. Tapi entah kenapa saya gak tega ngambilnya soalnya jualannya gak ditutupin terus banyak lalat seliweran. Jadi parno hehehe…Rasanya sendiri sih standar tapi ya banyak aja pengunjung capek belanja terus makan di sini bahkan ada beberapa turis asing juga. 

Sebenernya masih ada banyak jajanan lokal yang bisa dicobain di area pasar seperti jenang gempol (ini adanya pagi sampai jam 9) dan sate kere (pernah cobain dan nggak doyan). Terus ada warung prasmanan masakan rumahan yang enak juga di dekat kios Mbok Galak, mungkin kapan-kapan bisa saya jajal. Ciao! 

Menjemput Impian ke Eropa

Source: dutchnews.nl

Eropa, nama itu beberapa tahun yang lalu cuma impian yang kayaknya gak mungkin kecapai. Tapi tetep sih saya masukin ke salahsatu bucket list benua yang saya pengen kunjungin sebelum meninggal. Berbekal rejeki nomplok dari pak suami (ehm…thanks hubby!) akhirnya saya nekat langsung beli tiket pesawat ke Amsterdam walaupun belum tau visanya bakal approve atau nggak! Iya, saya emang risk taker gitu anaknya. Saya beli tiketnya awal Januari tahun ini KLM Kuala Lumpur-Amsterdam seharga AU$1089 (saya beli di travel agent Flight Center di Wollongong, Australia), yang mana artinya saya hanya punya waktu 10 bulan untuk mempersiapkan tetek bengek untuk pendukung visa. 

Sempet ngeri visa ga granted karena kondisi saya yang rada unik:

– murni IRT alias pengangguran alias gak kerja. Ada sih kerjaan dari blogging tapi ya tetep gak sering dan nilainya gak banyak. Jadi yah itung aja saya murni IRT

– menikah dengan WNA (Australia) tapi belum bikin spouse visa alias tempat tinggal sana-sini dengan visitor visa 

– walau tinggal sana-sini tapi rekening saya pakai bank Aussie. Yang mana saya pernah baca salahsatu post member di traveling forum yang saya ikutin di FB yang kebetulan dia anak WHV di Aussie dan mau ngajuin Schengen, rekeningnya dipermasalahkan karena rekening bank asing (dan tidak buka di Indo). 

Dengan kondisi unik tsb akhirnya ngebuat saya jadi banyak baca, cari referensi sebanyak-banyaknya tentang pengurusan visa Schengen ini. Khususnya buat ibu rumah tangga (kebanyakan post yang saya temui adalah buat orang bekerja dan wiraswasta). Jadi buat yang kasusnya rada mirip sama saya, nih saya jabarin ya dokumen apa aja yang harus disubmit:

– Print kertas appointment ~ bikin appointment dulu tanggal dan jam yang diinginkan di website masing-masing kedutaan yang mau dituju, kalau sudah appointment yang dikirim ke email diprint. Tips: buat appointment minimal 2 bulan sebelum tanggal janji temu terutama kalau ingin apply di VFS Netherlands yang selalu full

– Formulir visa ~ bisa search dan diunduh di google. Cara pengisiannya bisa dilihat di blog Winny Marlina. Thanks Win! 

– Pas foto 3,5×4,5 ~ ada kasus applicant yang disuruh foto ulang kalau fotonya gak sesuai. Saya sih dapet referensi beberapa studio foto yang bisa bikinin foto visa, gak seperti pas urus visa Jepang yang bikin di Adorama, kali ini saya bikin di studio Fuji Film di Mall Ambassador (sebelah All Fresh) tinggal sebut aja mau visa apa fotografernya udah tau kok. Bayar 60k bisa ditunggu kurang dari 1 jam dapat 4 lembar+CD softcopy

– Paspor lama dan baru, asli dan fotokopian

– KTP, KK, Akta Lahir, Akta Nikah ~ ditranslate ke bahasa Inggris/Belanda, gak perlu pakai sworn translator tapi karena saya mungkin butuh buat urus spouse visa tahun depan jadi saya pakai jasa sworn translator yang ada di VFS Kuningan City, bayarnya 175ribu/lembar. Untuk akta nikah saya gak translate karena sudah dwi bahasa. Jangan lupa bawa fotokopian yang berbahasa Indonesianya juga ya. Tips: buat yang mau pakai sworn translator, jangan lupa nomor registrasi di tiap-tiap terjemahan dicatat yah jadi in case butuh lagi gak usah terjemah ulang tapi cukup sebut nomor registrasinya aja dan mereka akan cetak+legalisir dan hanya bayar 50ribu aja. 

– Itinerary ~ kalau diketerangannya sih rencana perjalanan bisa berupa reservasi tiket. Kalau yang ini saya melampirkan tiket KLM saya Kul-Ams-Kul dan tiket AirAsia pp Jk-Kul-Jkt. Note: kedutaan Belanda tidak menyarankan untuk membayar reservasi tiketnya duluan alias boleh pakai tiket dummy. Cuma kalau saya mikirnya, tiket yang fully paid harusnya bisa jadi consideration mereka kasih visa karena sudah fix akan pulang lagi ke Indonesia. 

– Asuransi perjalanan ~ tadinya baca di blognya Winny Marlina tertarik pengen pakai ACA karena lebih murah tapi rada ribet harus bank transfer segala. Secara saya gak punya rekening bank Indo, akhirnya saya beli AXA Smart Traveller di boothnya di VFS Kuningan City sekalian masukin dokumen terjemahan. Pembayarannya bisa dengan cc, debit atau cash. 

– Bukti reservasi hotel ~ yang ini juga gak harus dibayar dulu kok, bikin aja dummy yang bisa free cancellation. Tips: salahsatu pertimbangan Schengen di approve atau nggak itu bukti bookingan hotelnya gak boleh bolong-bolong. In case bisa siapin tiket antar negaranya sih gak masalah, tapi setau saya tiket antar negara itu non refundable kalau visa ditolak. Jadi agak riskan. So mending bikin bookingannya aja yang jangan bolong. Contoh: di amsterdam 1-5, brussels 5-8, paris 8-12 dst gitu. Kalau kamu bookingnya amsterdam 1-5, brussel 6-8 biasanya antara tanggal 5 dan 6 akan timbul pertanyaan kamu nginep dimana. 

– Itinerary ~ selain bukti reservasi hotel saya juga sertakan itinerary kasar dan budget plan, apa yang saya mau lakuin disana, tinggal dimana, berapa lama, ongkosnya berapa, tiap-tiap negara. Ini usahakan dibikin sama seperti reservasi hotelnya yah. Saya juga bikin budget plan, biar mereka tau kalau jumlah tabungan sekian make sense dengan pengeluarannya. Tapi kalau gak mau repot bikin juga gpp, kalau saya emang orangnya detail banget. Oiya, itinerary ini saya banyak contek dari blognya Winny Marlina, thanks Win! 

– Untuk menjamin kita balik lagi ke negara asal, buat IRT yang gak kerja kayak saya pilihannya cuma 2, yaitu:

  • Surat ijin dari suami dalam bahasa Inggris, di sini harus distate bahwa suami mengijinkan kita pergi dari tanggal berapa sampai tanggal berapa, dengan pesawat apa. Dan menjamin kita gak cari kerja ilegal disana dan bakal balik lagi ke negara asal. Sebagai tambahan suami juga state bahwa saya akan pergi ke Eropa sendirian seperti trip-trip saya yang lain (saya mah emang gitu, biar uda double tetep lebih suka pergi sendokiran 😁) . Saya juga sertakan nomor telpon suami yang bisa dihubungi in case Kedutaan gak percaya dan pengen cek ke suami saya kalau bener istrinya pergi uda ijin bukan minggat 😝 Buat dokumen pendukung suami     saya menyertakan pasport dan payslips (sebagai pernyataan sumber keuangan, jadi gak perlu minta surat keterangan kerja ke perusahaannya, kebetulan suami selalu dapat payslips tiap gajian)
  • Sertifikat rumah/tanah ~ di lembar checklistnya sih dibilangnya imovable property certificate. Yang ini saya terjemahkan dengan sworn translator juga. Jangan lupa bawa fotokopinya yang berbahasa Indonesia ya..

– Rekening koran 3 bulan terakhir & Bank Reference ~ Kemarin saya hanya menyertakan bank statements dan bank reference yang saya download melalui ebanking dan tidak pakai cap resmi banknya! Padahal yang saya baca-baca bank reference harus asli dan ada cap. Jadi kemarin itu karena saya udah di Indonesia sejak Juni (yang mana baru mau lodge visa di bulan Oktober) jadi saya gak sempat bikin bank reference langsung ke bank Commonwealth di Wollongong. Saya sudah mencoba menghubungi orang banknya langsung melalui twitter dan jawabannya adalah suami saya disuruh coba datang ke Combank Wollongong. Pas suami saya kesana dibilang ama staffnya kalau pembuatan bank reference tidak bisa diwakilkan even oleh spouse (walaupun on behalf dan pakai surat kuasa dari saya). Terus saya sempat panik dan mengirimkan email ke VFS Netherlands mengenai hal tsb, kata mereka gpp kalau memang gak ada. Karena yang mereka butuh liat itu, saldo akhir, cash flow yang stabil, nama pemilik rekening, nomor rekening dan alamat. Berbekal email dari salahsatu staf VFS itu jadi saya hanya download yang ada aja dari ebanking. 

– Sebagai bukti pendukung bank statements, saya menyertakan surat keterangan dari Dept Housing Wollongong bahwa alamat saya di rekening Bank ikut domisili suami selama di Aussie. 

– Untuk dokumen pendukung lainnya saya menyertakan tiket Flixbus Paris-Dusseldorf dan Dusseldorf-Amsterdam yang udah dibayar. Kebetulan waktu itu lagi baca-baca forum travel di FB terus nemu salahsatu member yang lagi jual voucher sisa Flixbusnya yang gak terpakai €25/pcs untuk rute bebas, jauh-dekat. Saya pikir sih lumayan karena untuk rute saya yang diatas harga per-rutenya sekitar €29-€32. Jadi ya udah saya sikat aja, padahal visa aja belum yakin diapprove πŸ˜…

Di tanggal appointment yang saya inginkan, yaitu 11 Oktober 2017 jam 1.15pm saya menaruh berkas-berkas tersebut dan membayar sekitar 1,380k. Setelah dokumen selesai dicheck, lalu saya melakukan biometri (sidik jari) dan disuruh tunggu 15 hari kerja. Tapi kenyataannya dalam waktu 7 hari kalender aja visa saya sudah keluar. Sempet deg-degan bakal ditolak karena tabungan saya gak nyampe 50juta kayak orang-orang, tapi ternyata…….GRANTED cyiiiinnn! Puji Tuhan! πŸ™πŸ»

So tinggal nunggu bulan depan aja nih dan saya siap untuk memulai petualangan yang baru. Europe, i’m komeeeengg! Uhuuuyyy! 

Kuliner Jogja Selatan yang Wajib DicobaΒ 

Belum juga seminggu balik ke ibukota udah kangen aja sama Jogja, terutama sih makanannya. Nah…kalau yang ikutin IGnya Gadisrakus, beberapa minggu belakang (sebelum balik ke Jakarta) saya sering banget staycation di daerah Selatan Jogja bukan tanpa tujuan lho. Sebenernya sih yaa sekaligus kulineran gitu di daerah Bantul dan sekitarnya yang kalau saya harus pp dari tempat tinggal saya di sebelah Utara Jogja lumayan agak jauh. Jadi apa aja sihh kuliner daerah selatan yang wajib kamu cobain kalau lagi di Jogja. Here we go! 

# Mangut Lele Mbah Marto


Mangut lele yang terkenal di daerah Jogja sebenarnya ada 2 (menurut beberapa referensi), selain mbah Marto ini ada juga Bu Lies yang berlokasi di Imogiri, yang mana kalau saya liat di maps jauh banget ya dan mblusuk-mblusuk. Mbah Marto ini juga mblusuk sih tapi masih reachable lah. Lokasinya ada di belakang kampus ISI. Kalau mau kesini keep in mind ya kalau warung makan ini bener-bener tradisional dan ‘kampung’ banget, ga fancy lah. Tapi menurut saya ini yang justru jadi daya tariknya. Etalase dan tempat makannya sendiri cuma di dapur gitu. Kurang pas kalau bawa anak kecil sih karena banyak kompor dan panas, tapi kalau dateng sendiri sih yah oke aja lah. 


Menu yang tersedia defaultnya cuma tiga: gudeg, krecek, dan mangut lele. Ada tambahan tempe/tahu goreng buat lauk. Termasuk nasi semuanya bisa ambil sendiri sepuasnya, asal inget aja tadi ngambil apa aja. Saya waktu itu cuma ambil gudeg dan mangut lele aja 2 pcs. Gudegnya agak unik sih karena dicampur daun singkong. Kalau dari segi rasa sih menurut saya B aja (jujur lho ini, pliss jangan dibully), gak terlalu pedes dan bumbunya kurang mlekoh. Sensasi lele asapnya juga kurang berasa, entah ya mungkin karena jenis ikannya. Tapi kalau kalian penasaran dengan masakan yang satu ini bolehlah dicoba. Mereka juga jual lele asap yang belum dibumbuin kalau kamu mau ngolah sendiri di rumah. Total kerusakan termasuk minum 30k. 

# Ayam Goreng Mbah Cemplung


Ayam goreng mbah Cemplung ini cukup lama bikin penasaran, tapi ya itu karena mblusuk-mblusuk bawaannya jadi males aja. Untunglah sekarang ada teknologi yang namanya ojek online, jadi mobilitas cukup kebantu banget sih. Ayam mbah Cemplung ini berlokasi di Sendang Semanggi, Kasihan, Bantul (dekat ring road selatan). Waktu itu saya pesen ayamnya aja 2 potong (bisa pesen potongan atau perbagian ayam 1/4, 1/2, 1 ekor dsb). Setiap pesen ayam udah termasuk lalapan dan dua jenis sambal, sambal terasi goreng dan sambal bawang. Saya pribadi sih suka banget ya ayam goreng jenis ini, ayamnya empuk, bumbu gurih meresap dan digoreng basah (gak garing, jadi gak keras). Enak banget lah ini walau harganya lumayan mahal buat ukuran Jogja, total kerusakan termasuk 2 ayam, nasi, pete goreng dan minum sebesar 77k. 

# Sambal Belut Pak Sabar


Saya juga yang lumayan penasaran sama tempat ini yang berlokasi di Jl. Imogiri Barat Km 56, Bantul. Hail to ojol, karena mereka lah saya bisa blusukan sampai kesini segala (nasib gak bisa naik motor). Walau judulnya sambal belut tapi di sini juga jual aneka iwak kali seperti gabus atau wader. Oiya, gak semuanya yang kamu baca di google tuh bener lho. Jadi sebelum ke sini saya udah browsing, kebanyakan artikel bilang di sini tuh minimal pemesanan 1kg (iya kiloan bukan porsian) dan biasanya untuk 1 jenis masakan minimal 1/2 porsi (jadi kalau kamu pesan belut 1 kg, yang 1/2kg digoreng 1/2 lagi dibikin sambal). Tapi kemarin waktu saya kesana, saya boleh pesan 1/2kg aja dan dari 1/2kg itu boleh dimasak 2 jenis makanan (ukuran pergramnya dari tiap jenis makanan terserah kita). Jadi ya udahlah karena saya makan sendiri saya pesan 1/2kg belut yang dimasak menjadi dua, digoreng dan disambel. 


Belut gorengnya sendiri saya gak berani makan karena bentuknya masih ngelingker-lingker gitu, mana ada kepalanya pula. Alhasil itu belut goreng saya minta bungkus aja dan dikasihkan ke driver ojol daripada mubazir. Kalau sambel welutnya sih enak ya, jadi belutnya gak digoreng garing kayak di resto warung sambal yang terkenal banget itu #ifyouknowhatimean jadi digorengnya basah terus digerus pakai sambal bawang yang dikasih potongan kencur dan kelapa parut. Buat yang suka pedes, ini enak banget! Bikin lupa sama diet *buang timbangan* hahaha.. total kerusakan termasuk nasi dan teh hangat 75k. 

# Rujak Es Krim Pak Sony 


Abis makan yang pedes-pedes dan berminyak kita cari yang seger-seger dulu. Udah lama saya denger rujak es krim ini. Yang jual kebanyakan di sekitar Pura Pakualaman, ada beberapa referensi yang saya dapat tapi akhirnya saya memutuskan untuk makan yang di Pak Sony. Kalau dari gerbang masuk kedalam dekat gerbang masuk Pakualaman ke kanan (foodcourt). 


Sebenernya sih gak ada yang spesial (kalau menurut saya pribadi dari segi rasa). Rujaknya ya rujak serut biasa dikasih tambahan es puter. Ya seger sih tapi biasa aja. Tapi kalau kamu penasaran silahkan mencoba sendiri, harganya gak terlalu mahal kok seporsi cuma 10k aja. 

# Bakmi Pak Pele


Ke Jogja tanpa makan bakmi Jawa itu kayak mandi tapi gak pake sabun, kurang afdol gitu. Sebenernya sih bisa dibilang bakmi Jawa tuh bukan yang saya cari kalau ke Jogja, sama kayak gudeg. Cuma ya udahlah sekali-kali hunting bakmi Jawa yang enak. Menurut beberapa referensi ada yang nyebut Pak Pele yang warung tendanya berlokasi di Alun-Alun Utara (depan SD Keputren). Bukanya sendiri mulai jam 6, jadi biar kebagian tempat duduk jangan malem-malem kesininya. 


Waktu itu saya memesan bakmi rebus nyemek, bakminya enak, dateng ke meja sesuai request, kuahnya gurih dan gak amis walau pakai telur bebek dan ayam kampung. Paling mantep lagi kalau dimakan sama potongan cabe rawit dan minum teh panas manis. Hadeehh…pil diet mana pil diet πŸ˜… lain kali saya mau cobain bakmi Jawanya kemarin nyium baunya aja wangi benerrr…Total kerusakan termasuk es tape dan kerupuk sekitar 25k. 

# Kopi Joss Lik Man 


Gak ada salahnya menutup hari dengan segelas kopi areng ala Lik Man yang udah melegenda. Berlokasi di sebelah utara Stasiun Tugu Jogja, tempat ini susah-susah gampang dicari. Susah soalnya di sepanjang jalan Wongsodirjan itu yang punya konsep kayak Lik Man gak cuma satu tapi buanyak, jadi kalau khusus mau ke Lik Man aja perhatiin spanduknya baik-baik. 


Walau udah kenyang makan Bakmi Pak Pele tapi namanya juga di angkringan iseng banget kalau cuma minum kopi doang. Akhirnya saya juga makan gorengan dan nasi kucing. Rasanya sih biasa aja kayak angkringan pada umumnya. Tapi tetep kopi arengnya juarak, padahal bapaknya cuma pakai kopi bubuk biasa aja lho pas saya tanya dia pakai kopi apa. Tapi kopinya tuh enak, kental, legit, ada sedikit ada rasa smokey dan after taste pahit khas kopi Jawa. Jangan bilang suka ngopi kalau belum pernah kesini. Wajib! Total kerusakan kopi, gorengan, nasi kucing dan lauk cuma 15k aja *pelukLikMan* 

Kalau ada yang nanya kenapa saya gak masukin sate klathak di dalam list? Soalnya Gadisrakus itu ga suka kambing. Jadi ya maaf aja kalau saya gak bisa kasih referensi sate klathak (padahal konon katanya banyak yang enak di daerah Bantul). So, buat yang lagi pengen ke Jogja tapi bingung makan dimana, semoga postingan ini bisa jadi referensi. Happy traveling! Ciao! 

4 Budget Boutique Hotels Review in Jogja

Hi guys! Greetings from Jogja! This time I would like to give you recommedation four stylish boutique hotel to stay in Jogjakarta. Since my blog 3/4 about food and the rest is about travel (cause for me food and travel is one package) so i hope this post not confused you. As i also a backpacker (and cheapskate as well lol) so these recommendations wouldnt abuse your  wallet. I deliberately booked same class to make comparison apple-to-apple. And those arent more than $70/night, sounds good? Ok let’s get it on! 

# Lokal Hotel

Address: Jl. Jembatan Merah No.104C, Condongcatur, Sleman-Jogjakarta

Lokal Hotel started being so famous after the restaurant (which part of this hotel) became shooting place of the booming “Ada Apa Dengan Cinta 2” movie. Who doesnt love this movie? I, even, had the AADC1’s dvd and already watched more than 20times over and over again. I booked Type C (Deluxe King Room) with the cost IDR585,000 or about AUD55 per night.

Pros:

  • Artsy and colourful interior design, suits for youngsters or young couple
  • Room service available
  • Having minibar in the room (with free welcoming snacks and drink)
  • Fast response help desk
  • Having airport pick up service for free
  • Having pool towel (just request to the front desk)
  • Wifi throughout area
  • Need prepayment before arrival

Cons:

  • Small pool
  • Dont have lift
  • Very standard breakfast
  • A bit far from city center
  • Shower not good
  • Deposit IDR200,000 (AUD 18) once we arrive

# Greenhost Boutique Hotel

Address: Jl. Prawirotaman II no.269, Brontokusuman, Jogja

This hotel also started being so famous after AADC2 the movie, cause one of movie scenes filmed here. Moreover, with eco-friendly, back to nature and go green concept which is unique and one of a kind concept, this hotel is being one of most talked about among travellers. I booked Deluxe Double with the cost IDR657,000 or AUD63 per night.


Pros:

  • Spacious room with industrial minimalist concept
  • Having room service 
  • Artsy communal room
  • Simple reservation just by using booking(dot)com and dont need prepayment
  • Dont need deposit 
  • Large swimming/dipping pool
  • Having lift
  • Breakfast is very nice (many varieties and taste good)
  • It’s located in ‘tourist area’ which very strategic and not far from city center
  • Wifi througout area

Cons:

  • Slippery bathroom floor
  • Room ambience is too dark even in the afternoon
  • Dont have minibar
  • I found plenty ants on my coffee table and around bed. 

# Yats Colony

Address: jl. Patangpuluh No.23, Wirobrajan, Jogja. 

Yats Colony is newcomer in boutique hotel business and it started being popular as well since instagrammed by many selebgrams and public figures. I booked standard “Type Ra” room for IDR600,000 or AUD57 per night.

Pros:

  • Spacious room with artsy interior design and bright ambience
  • Having many instagram material spots especially in pool area
  • Having large swimming pool with 2 options, for toddler and adult
  • Having coffee shop (Coffee Smith)
  • Dont need deposit but you need to make prepayment before arrival
  • Having pool towel and hair dryer (request to the front desk)
  • Wifi throughout area
  • Spacious parking area

Cons:

  • Not really responsive help desk for reservation (fyi, i paid using bank transfer cause my mastercard debit cant be used to pay my reservation) i didnt receive any receipt after my bank transfer done and had to ring them twice to ask about my reservation status
  • Found plenty mozzies in the room (and had to ask FO to bring me bug spray)
  • Dont have electric kettle and coffee/tea, but it’s available outside the room (in public area)
  • Dont have room service, so in case you feel hungry the options either grab your food before back to the hotel, call delivery or you walk down to hotel cafe which located in upfront
  • The area not really strategic
  • Standard breakfast

# Adhisthana Hotel

Address: jl. Prawirotaman II no.613, Brontokusuman, Jogja

It’s only few walks away from Greenhost Hotel in Prawirotaman. This hotel being so popular cause they have vintage and traditional concept like using batik (Indonesian traditional fabrics). I booked Superior Room with Pool View for IDR400,000 or about $38 per night. 


Pros:

  • Cheapest among others
  • Having Indonesian traditional concept which is good
  • Having room service 
  • Pool quite large and can be used by adult
  • Spacious communal area and have vintage Javanese and a bit Chinese touch theme
  • Strategic location and not far from city center
  • Dont need deposit but you need to make 50% down payment before arrival

Cons:

  • Small bedroom 
  • Plenty mozzies in bedroom (probably because my room close to the pool?)
  • Dont have pool towels (you can request one at cost) 
  • Wifi througout area but low speed connection and also in some area have bad network connection (cant make outcall)
  • Very Standard breakfast

All the reviews are based on my experience and every person has different preference. You can choose what suits on you. Happy holiday! 

Koki Joni

Horeee banyak aja yah review saya minggu ini, ya gitu deh kalau malesnya kumat bisa ga nulis berminggu-minggu (walau tetep post di IG sih, eitss jangan lupa yah follow IG saya @gadisrakus kalau mau update terus resto yang saya cobain selama di Jogja). Oke postingan saya kali ini dateng dari Koki Joni, yang berlokasi di Gg. Abiyoso, Gondokusuman, Terban. Lokasinya agak masuk kedalam gang gitu sih tapi bisa dicari pakai GPS kok. Tau tempat ini rekomendasi dari teman saya. Sebenernya sih dia bilangnya tiap pagi ada bubur kalkun enak di sini, tapi yaa secara saya gak bisa bangun pagi jadi missed terus. 


Okeh kali ini saya makan aja di restorannya. Spesialisasinya Koki Joni jadi kayak di aneka makanan yang menggunakan kalkun. Sebenernya ini bukan pertama kali sih makan kalkun dulu pernah nyobain kalkun panggang di Singapura&Vietnam tapi uda lama banget. Yang saya ingat cuma guedee banget dan lebih berlemak daripada ayam. Kemarin pas ke sini mau cobain signature dishnya yaitu roasted turkey tapi belum siap dong πŸ˜… gimana sih padahal saya dateng siang-siang loh masa signature menunya belum siap. Yaudin saya memesan Spicy Turkey (32k) yaitu pasta dimasak aglio olio dengan roasted turkey. Sebenernya lumayan sih, cuma sedikit agak mengecewakan karena potongan kalkun yang dipakai kebanyakan ati rempela, kulit dan lemak. Dagingnya dikit ajah πŸ˜‘ 

Total kerusakan termasuk teh hangat, air mineral dan tambahan cheesy french fries sebesar 64k (sudah termasuk pajak). Kalau pengen makan yang beda bolehlah tempat ini jadi pilihan. Ciao! 

NOE coffee&kitchenΒ 

Mumpung lagi ada di area yang sama, dari Kedai Rakyat Djelata saya tertarik nyobain salahsatu coffee shop yang lagi heits juga yaitu NOE Coffee yang berlokasi di Jl. Dr Wahidin No.68, Yogyakarta (sampingnya RS Bethesda). Horeee…gak bisa tidur lagi. Horee bergadang sampai pagi lagii 😁


Tertarik sama NOE ini karena (katanya) mereka punya salahsatu cold brew terenak di Jogja. Sayangnya pas kesana cold brewnya abis. Kalau dari segi interior cukup comfy and nice. Kalau gak salah mereka juga punya private room di belakang, kayaknya cocok buat yang lagi mau meeting di luar ramean. 


Akhirnya karena cold brewnya gak ada saya hanya memesan cappucino (22k). Cappucinonya ya standar pada umumnya lah. Coffee not come off to strong. Cukup bisa dinikmati. 


Lalu saya juga pesan Coffee Pannacota (26k) sebagai dessert. Pannacota lumayan cukup enak walau rasa kopinya gak terlalu berasa ya. Suka crunch on topnya bikin teksturnya gak boring. 

Satu hal yang cukup menganggu saya disitu cuma satu sih, banyak semut. Semut item-item gitu loh. Gak cuma satu tapi banyak. Dan ternyata mereka ngincer biskuit yang jadi side di cappucino saya πŸ˜… ciao!