Archive by Author | gadisrakus

Europe Trip – Day 1 (Amsterdam)

Hii seperti janji merpati gadisrakus yang pengen cerita tentang solo travel ke Eropa kemarin. Jadi rencana bepergian kali ini karena pengen nantangin diri sendiri bisa gak sih saya traveling sendirian ke Eropa, apalagi banyak referensi blog-blog keren yang bloggernya kebanyakan pergi sendiri seperti Winny Marlina (winnymarlina.com), Mischa Johana, dan Teppy (thefreakteppy.com).

Karena baru pertama dan cuma 12 hari pula (padahal dapet visanya multiple 45 hari hiks), jadi saya pergi ke negara-negara mainstream dulu alias rute favoritnya traveler pemula ke Eropa, yaitu Belanda, Belgia, Perancis dan Jerman. Cuma 4 negara? Iya! Pertimbangannya karena saya traveling sendirian dan saya anaknya gampang sakit kalau kecapean, jadi kalau terlalu diforsir ke banyak negara dan sakit ntar gak ada back up yang gentian gendongin ransel saya *eh gimana?* Lagian buat saya, traveling itu harus enjoy. Kalau terlalu padat nguber keberbagai tempat dan berakhir dengan kecapekan dan sakit, ujung-ujungnya jadi gak enjoy *been there done that* Jadi untuk pemula saya bikin rute yang realistis aja, sukur-sukur nanti ada rejeki lagi buat balik dan eksplor ke negara lain *amiiinn*

Okeh cukup intermezonya, jadi saya memulai perjalanan saya pada tanggal 14 November mulai dari KL dengan pesawat KLM, pesawat saya terbang tengah malam dan sampai di Amsterdam Schipol keesokan harinya pukul 5 pagi. Sempet deg-degan waktu mau lewat imigrasi karena banyak yang nulis di forum Backpacker Indonesia banyak yang kena random check, dan ga sedikit juga yang dipulangin karena dianggap tujuannya gak jelas. Untung sebelum pergi saya print semua tiket, baik yang dari Jakarta-KL-Jakarta, KL-Amsterdam-KL, semua bukti bookingan hostel (kecuali yang di Paris karena saya menginap di rumah teman saya, untuk ini saya hanya menuliskan nama teman, alamat dan nomor telpon di lembar itinerary), semua bookingan flixbus, itinerary dan juga polis travel insurance. Ya walaupun saya simpan softcopy semuanya di dalam email tapi ya buat jaga-jaga daripada ribet mending diprint dan dibundel jadi satu aja. Jadi in case officernya nanya ya tinggal ditunjukin aja. Waktu kami sampai imigrasi, counter yang buka cuma 4. Mungkin karena masih subuh kali ye. Pas giliran saya, saya sempat ditanya-tanyain tapi jawab aja semuanya dengan PD, lugas dan jelas, gak usah panjang-panjang macam pidato miss universe. Yang ditanyain cuma “is this your first time to europe?”, “why you choose Netherlands?”, “what you purpose here?” dan gongnya “can you show me your return ticket?” Dan stempel schipol langsung tergeletak manja di paspor setelah saya nunjukin bukti return ticket. Udah gitu aja. Kalau kamu jawabnya rada gugup biasanya pertanyaannya jadi tambah panjang kayak cewek di counter sebelah pakai ditanya itinerary, bookingan hotel dan bawa uang berapa banyak segala.

Kebetulan kemarin di Belanda saya menginap di female hostel di daerah Amsterdam Biljmer Arena (dekat stadion Ajax), gak di pusat kota banget sih tapi hostelnya bagus walaupun murah. Oya hostel saya ini namanya Hostelle (bisa dicek di bookingdotcom ya), ini female only hostel jadi cocok buat yang pengen tinggal di hostel tapi risih kalau harus mix dorm karena di sini ya female only, sampai pegawai hostelnya pun semuanya perempuan tapi maaf saya gak ada fotonya yang pasti nyaman, gak terlalu berisik (penting!), lokasinya strategis dekat mall dan banyak resto, walking distance juga ke stasiun Amsterdam Biljmer (penting!), interiornya so girly banget, wifi kencang (penting!), free kopi dan teh all day, ada kitchen dan peralatan masak lengkap buat yang mau irit dan yang pasti tempatnya bersih (penting!). Kurangnya cuma satu, gak dapat sarapan tapi ya udahlah ya tinggal beli aja roti-rotian di Albert Heijn sama kopi gak nyampe €5. Saya menginap di sana 5 malam (3 hari pertama dan 2 hari terakhir) dapat rate €172 atau sekitar 2,7jutaan (kurs 16ribu) di kamar isi 8 bed.

Dari Amsterdam Schipol saya membeli kartu OV-Chipkaart sejenis kartu isi ulang yang bisa dipakai untuk naik bis,kereta,metro dan ferry semacam Opal card di Sydney atau Ezlink di Singapore. Deposit kartunya €7,5 dan kita bisa isi berapa aja. Saya isi langsung €42,5 karena males repot bolak balik harus isi, apalagi saya juga bakal stay 5 harian di Amsterdam. O iya di Schipol lokasi counter OV-Chipkaart ini ada di sebelah kiri paling ujung dari terminal arrival ya. Kalau kamu bawa cc mending isi di mesin aja yang banyak banget bertebaran di arrival hall, kemarin karena saya gak punya cc jadi belinya cash. Jangan lupa tap on-tap off ya kalau gak mau kena fine. Oiya tips yang mau hemat di Amsterdam pakai public transport, carilah rute yang menggunakan metro karena ongkosnya murah banget less than €1 jauh dekat. Kalau naik kereta termurahnya sekitar €3, dan termahalnya pernah saya pakai ke Rotterdam kena €15 one way. Kalau naik bis sekitar €1-€3 tergantung jauh dekatnya. Buat kamu yang baru pertama ke Amsterdam gak usah takut gak usah bingung, karena transportasi di Amsterdam itu gampang banget dipelajari, rutenya jelas, tanda petunjuk peron atau platform metro juga jelas, tiap mau sampai tujuan selalu ada voice overnya (dalam 2 bahasa, Inggris dan Belanda) dan orang Belanda itu ramah-ramah termasuk supir bis jadi jangan takut nanya. Saya aja selama di sana cuma ngandelin google maps doang.

Hari pertama ini bisa dibilang gak terlalu produktif sih, karena saya cuma keliling area Biljmer aja. Sambil ngopi dan cicipin makanan-makanan dekat situ *teteepp yah orientasinya makanan*. Selain itu juga karena pas datang sudah memasuki musim peralihan dari autumn ke winter yang mana dingin banget (selalu di bawah 10 derajat), langitnya mendung dan sering hujan jadi bawaannya cuma pengen gegoleran aja di kasur sambil selimutan 😁 dan yang pasti cuaca dingin akan buat kamu sering lapar! Catet buat yang mau ke Belanda di bulan November, lebih baik beli jaket windbreaker atau UL-nya Uniqlo, lebih bagus yang ada hoodienya jadi in case malas bawa payung kalau hujan tinggal dipakai aja hoodienya. Lebih gampang keringnya dan tetep hangat yang pasti. Coat-coat syantik ala OOTD fashion blogger sih menurut saya kurang efisien ya tapi kalau mau pake ya boleh aja sik.

Oya saya sempat belanja juga di Lidl hari pertama itu buat beli sabun dan shampo karena di hostel ga disediakan toiletries ternyata. Tapi tenang di dekat hostel ada banyak shop tinggal pilih sesuai kantong, ada Etos (sejenis chemist warehouse gitu dan barangnya sering diskon), Albert Heijn, Hema atau Lidl. Favorit saya untuk barang consumer goods lebih suka Lidl karena murah, dia keknya Dutch versionnya Aldi deh hampir sama dari display tokonya pun. Kalau untuk makanan minuman cemilan favorit saya Albert Heijn. Gak lupa saya juga pergi ke counter Vodafone buat beli simcard lokal, ini penting buat orang yang rajin ngeksis di Instastory kayak ijk. Kalau kamu mau travel keliling Europe, Vodafone ini bisa jadi pilihan karena bisa dipakai di negara lain (dan sinyalnya lumayan oke juga), waktu itu saya beli €20 dapat data 3G dan ekstra bonus 1G, dipakai buat 2 minggu. Jangan lupa bilang sama pegawainya kalau kamu mau keliling Europe nanti dia yang akan setting handphone kamu untuk bisa roaming data.

Sekian hari pertama saya yang tidak berfaedah. Ciao! 😁

Advertisements

Europe Trip – Day 2 (Zandam&Volendam)

Hari kedua saya sebenarnya berencana eksplor 3 kota, Zandam, Volendam dan Giethoorn. Tapi apa mau dikata hari kedua cuacanya bener-bener gak banget, saya sampai freezing padahal udah pakai longjohn segala macam. Jadi begitu sampai Volendam saya memutuskan untuk pulang aja dan skip Giethoorn.

Buat ke kota-kota tsb saya sih saranin beli Amsterdam Region Day Pass, tersedia buat 1-3 hari disesuaikan aja sama kebutuhan. Menurut saya lebih murah daripada kamu harus bayar pakai OV Chipskaart karena kota-kota tsb hitungannya udah luar kota yang sekali jalan bisa di atas €10. Saya beli untuk yang 1 hari sekitar €18,50 bisa dipakai sepuasnya, jadi lebih hemat. Oiya kartu Amsterdam Region Day Pass ini juga bisa kamu pakai ke Kekeunhoff (kalau pas musim tulip). Belinya di counter tiket di setiap stasiun pasti ada, kalau saya belinya di stasiun Amsterdam Biljmer.

Rute pertama yang saya tempuh adalah Zandam karena saya mau liat Dutch windmill di Zaanse Schans. Untuk rute dan transportasinya bisa kamu liat di google maps ya. Tinggal ketik “from” sama “to” nya nanti akan keluar beberapa pilihan rute dari yang paling simpel sampai yang paling muter-muter, tinggal kamu sesuaikan aja dengan kebutuhan.

Zandam sendiri adalah kota kecil dan lumayan agak sepi. Zaanse Schans itu lebih kayak pusat turismenya, jadi di dalam satu area itu ada chocolate factory, windmill, cafe, restoran, tempat suvernir, cheese factory dan clog factory. Ada yang masuknya gratis, ada juga yang bayar. Kalau saya mah kalau bisa dapat foto kece gratis ngapain bayar 😝 Tempatnya lumayan agak crowded ya namanya juga pusat turis, tapi worth to visit sih. At least nambahin koleksi foto dengan latar belakang windmill lah 😁

Di sana saya ketemu turis asal Indonesia juga, itu juga dia minta tolong fotoin. Terus juga cuma muter-muter sebentar aja lalu berakhir di cafe yang jual stroopwaffle. Kalau ke Belanda jangan lupa makan stroopwafflenya, biasanya dijual di pinggir jalan gitu harganya juga gak mahal antara €1,5-€2,5 tergantung toppingnya. Mayanlah buat ngotorin gigi 😁

Sehabis dari Zaanse Schans, saya naik bis dari halte depannya ke stasiun Amsterdam Central. Dari Central saya ambil bis yang menuju Volendam. Di bis ini saya ketemu dua orang turis Indonesia juga, sempet muter-muter bareng di Volendam sebentar.

Di Volendam juga cuma muterin desa nelayannya aja. Menurut saya sih ya gitu doang, pemandangan bibir laut dengan segambreng kapal nelayan. Entah saya datangnya pas lagi musim begini, tapi buat saya sih gak gitu menarik. Dan seperti biasa, jalan-jalan saya selalu berakhir di tempat makan, abis kenyang lalu pulang 😁 o iya kalau lagi di Volendam wajib coba snack khas Belanda yaitu niew harring yaitu ikan herring mentah yang disajikan dengan acar dan bawang. Rasanya sih amis dan rada asin gitu lah. Cuma ya patut dicoba aja kalau kesana, harganya gak mahal kok rata-rata antara €2,5-€4 (tergantung beli dimana).

Dari sini sebenarnya sudah dekat kalau mau ke Edam, sebuah kota kecil yang isinya pengrajin keju. Tapi karena udah agak sore juga akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke hostel. Itulah enaknya solo travel kita bisa ngukur kemampuan diri, kalau udah capek ya mending pulang istirahat, apalagi cuacanya lagi gak mendukung.

Ciao!

Europe Trip – Day 3 (Rotterdam)

Hari ketiga ini saya habiskan waktu untuk eksplor Rotterdam, kebeneran dari stasiun Amsterdam Biljmer ada kereta langsung yang ke Rotterdam jadi saya gak usah capek-capek ke Central dulu. Seperti yang saya bilang di postingan sebelumnya kalau rute Rotterdam ini yang paling mahal diongkos menurut saya yaitu €15 one way (jadi pp sekitar €30 ya). Karena tujuan utama saya cuma mau liat cube house jadi dari stasiun Rotterdam Central saya hanya tinggal naik kereta saja sekali stop ke stasiun Rotterdam Blaak. Sebenarnya kalau mau irit bisa sih jalan kaki dari Rotterdam Central, tapi kan jij tau sendiri ijk anaknya pemalas, kalau ada ojek online mending naik ojol dah daripada jalan kaki 😂

Sesampainya di stasiun Rotterdam Blaak tinggal keluar saja maka si cube house udah keliatan, gak jauh dari situ juga ada mall yang bangunannya agak futuristik, dan juga gereja tua. Kalau dilihat-lihat dibanding Amsterdam, Rotterdam ini emang lebih colorful dan modern arsitekturnya. Saya gak keliling ke seluruh Rotterdamnya. hanya eksplor di dekat cube house aja karena sepertinya pusat kotanya ya disitu.

<

apek muter-muter seperti biasa saya membeli streetfood untuk dicemil sambil ngeliatin orang lalu lalang. Saya membeli kibbeling (fish n chips) dan surimi (kurang lebih €5). Kurang enak sih padahal rame, saya gak suka rasa fish n chips di Belanda karena cenderung hambar jadi main rasanya di saus cocolannya aja, dan saya salah pilih saus dong jadi rasanya ya gitu deh. Emang dimana-mana fish&chips itu cocoknya dimakan pakai saus tartar. Period!

<

Selesai ngemil, saya memutuskan untuk ngopi sambil numpang nyolok gadget di coffee shop bernama Douwe Egberts. Kalau gak salah coffee shop ini ada cabangnya juga di Gandaria City, Jakarta. Coffee shopnya ga gede-gede banget tapi cukup ramai. Dan waitressnya juga ramah banget, pas dia tau saya dari Indonesia dia bilang “welcome to Netherlands, enjoy your holiday!” Sambil tersenyum lebar. Di sini saya memesan cappucino dan spekkoek cake yang disajikan dengan whipped cream (€7,75).

Satu hal yang saya perhatikan beberapa kali minum kopi di Belanda, karakteristik kopi di sini itu cenderung pekat dan pahit. Bahkan ketika sudah dibikin menjadi cappucino, kalau kamu gak suka kopi yang terlalu ‘medok’ memesan Italian Cappucino would be the best choice, karena saya perhatikan Italian Cappucino-nya lebih creamy dan yang pasti rasanya gak setebal cappucino yang biasa.

Spekkoek cakenya terasa sangat berempah banget, buat kamu yang gak suka rasa rempah yang medok (kayu manis, star anise, cengkeh dll) mungkin gak bakal suka. Saya aja cuma bertahan ngabisin setengah potong, dan setengah potongnya lagi saya nyerah! Hahhaa..

<

udah selesai ngopi-ngopi lalu saya bergegas kembali ke Amsterdam Central. Kali ini karena saya pengen cobain kentang goreng Manekin Pis yang direkomendasiin my fellow foodies (@doc_babi) yang juga baru aja kelar Europe trip. Saya ngiler liat foto-foto dia, akhirnya saya cari deh tu si kentang goreng tersohor. Lokasinya ada di Damrak (nggak jauh dari Amsterdam Central, tinggal lurus aja nyebrang jembatan, lokasinya sebelah kanan jalan dekat yang jual-jual souvernir, liat aja kalau ada rame-rame orang pada ngantri).

<

Spesialisasi kentang goreng di sini karena sizenya besar! Serius, kalau kamu gak lapar-lapar banget mending pilih yang small size. Karena saya sok-sokan pesan yang medium size (kirain porsinya cuma segede kentang McDonalds) eyaoloohh ternyata gede banget pemirsa, saya sampe gumoh ngabisinnya. Dan setiap pembelian kentang ini kamu bisa pilih 2 free flavor sauce. Yang direkomendasiin ama orang-orang sih mayo dan peanut sauce. Peanut saucenya rasanya mirip saus batagor (seriously!) ada rasa daun jeruknya gitu. Cocok gak cocok sih. Kalau mau hemat mending beli ini aja, udah pasti kenyangnya dan gak abis-abis hehehe. Manekin fries ini harganya €4.

Abis makan kentang Manekin saya langsung balik ke hostel, karena harus packing siap-siap pindah negara keesokan harinya. Ciao!

Europe Trip – Day 4 (Antwerpen)

Keesokan paginya saya udah bangun pagi-pagi, karena saya harus ngejar flixbus ke Belgia tepatnya ke kota Antwerpen jam 10 pagi dari stasiun Amsterdam Sloterdijk. Kebetulan ada kereta yang langsung dari Amsterdam Biljmer, hanya 2 stops pula. Tempat mangkalnya flixbus di stasiun Sloterdijk ini ternyata cuma sepelemparan batu dari pintu keluar Sloterdijk jadi lumayan gampang dijangkau apalagi kalau kamu bawa carrier segede anak kingkong atau koper isi baju satu lemari.

Saya memilih flixbus ketimbang bus yang lain karena review bagus di forum Backpacker Indonesia, selain karena harganya juga pas di kantong. Untuk reservasinya bisa download appnya di apple store, ada pilihan menyimpan boarding passnya lagi jadi kalau mau naik tinggal tunjukin aja barcodenya nanti supirnya akan scan barcode tiket kamu. Pembayarannya bisa dengan cc atau debit mastercard (saya pakai ini dan berhasil!). Kursinya nyaman dan space buat kakinya juga lebar, ada colokan dan free wifi. Dan yang pasti kamu gak akan pusing sepanjang perjalanan karena supirnya gak bakal putar dangdut koplo atau disco remix *bis AKAP kalee*

Flixbus jurusan Antwerpen ini akan berhenti di Astridplein alias pas di seberangnya stasiun Antwerpen Central, jadi turun dari flixbus kamu tinggal cari tram/kereta menuju tempat tinggal kamu. Oiya, kalau ada yang nanya kenapa saya gak ke Brussels, jawabannya adalah karena saya gak terlalu suka yang “kota” banget. Dan Antwerpen udah lama dikenal sebagai salahsatu kota tua yang cantik. Malah stasiun Centralnya disebut-sebut sebagai salahsatu yang tercantik di dunia. Tapi emang iya sih. Di stasiun ini banyak banget militer berjaga-jaga dengan laras panjang, mungkin karena akhir-akhir ini Eropa lagi musim terror attack kali ya.

Untuk transportasi dalam kota di Antwerpen kamu bisa beli day pass bernama De Lijn ini, kamu bisa pakai seharian pakai buat naik tram/bus. Selain di Antwerp, day pass ini juga bisa dipakai kota lain di Belgium seperti di Brugge dan Ghent, kecuali di Brussels. Harganya mulai dari €6 untuk 1 hari. Kamu bisa beli di mesin tiket (bisa pakai uang cash), di pusat informasi turis di dalam stasiun Central atau di counter ticket kereta intercity (di bagian depan stasiun dekat Starbucks).

Oiya mau ngingetin juga, buat saya di antara ketiga negara Schengen lainnya yang saya kunjungin, buat saya transportasi di Belgia ini yang paling susah saya mengerti. Terutama ketika naik tram. Pertama, stasiun tramnya kaga jelas wujudnya (gak ada halte, cuma tanda stopan aja kadang), kedua ga ada tanda petunjuk maupun voice over di dalam tramnya yang menunjukan lokasi, jadi either kamu nanya dan mastiin dulu sama supirnya sebelum naik atau bakal bablas/nyasar, ketiga masinis tramnya kadang bikin pengumuman cuma pakai bahasa Belanda (teu nyaho iyeu kaga ngarti dia ngomong apa), keempat masinisnya kebanyakan tidak bisa berbahasa Inggris (bisa sih tapi patah-patah kayak goyangannya Dewi Persik) jadi agak sedikit menyulitkan ketika kamu mau nanya-nanya. Oiya jangan lupa setelah beli tiket, kamu compost dulu tiketnya di mesin kecil dekat supir untuk memvalidasi tiketnya.

Terus juga kalau kamu mau melakukan perjalanan ke kota lain, kamu juga harus beli tiket kereta terpisah di counter tiket intercity train, jadi bukan pakai De Lijn ya, De Lijn hanya untuk transportasi dalam kotanya aja tapi antar kota gak bisa. Jangan kayak saya yang ketinggalan kereta karena gak tau mengenai hal ini (saya ceritain di post selanjutnya). Harganya juga lumayan mehong, pas saya mau ke Brugge harganya €16 pp. Jadi yang tadinya mau eksplor Ghent juga jadi mikir-mikir 😝

<<<<
pas di stasiun ini saya juga dibantuin bapak-bapak baik hati yang kasian liat saya udah hopeless nyari stasiun tram yang ternyata lokasinya ada di seberang tempat saya turun flixbus barusan dong yaaaa..Nah itu stopan tram aja gak sinkron yang di peta sama aslinya. Padahal bapak itu tadinya mau pergi yang berlawanan arah, tapi karena kasian sama saya akhirnya dia nganterin loh ke stopan trem itu, nungguin sampai trem saya dateng buat mastiin saya gak salah naik, dan pesen sama supirnya (seorang ibu-ibu judes) untuk nurunin saya di tempat tujuan yaitu Groentplaats. Eh tu ibu pas udah nyampe tujuan juga diem aje lagi gak ngasi tau kalau udah nyampe, untung saya nanya ama orang kalau gak bablas deh 😩

Di Antwerp saya tinggal di Youth Central Hotel di daerah Bogaardeplein, sebenarnya kalau saya turun di Groenplaats masih agak jauh jalan kaki tapi berhubung saya udah stres duluan sama sistem transportasinya ya apa boleh buat daripada nyasar kemana-mana. Serius deh membaca rute trem Antwerp di google maps tak segampang prakteknya, karena ya itu ngebingungin. Haltenya dimana, arahnya kemana, nomor tremnya berapa, gak jelas blas. Huft hayati lelah 😑

Pas saya datang resepsionis menginfokan bahwa kamar udah full book, sempet emosi jiwa dong lha saya udah pesan dari beberapa bulan sebelumnya kok bisa gak ditekin, tapi akhirnya saya gak jadi naik meja eh darah pas dia nginfoin karena kesalahan mereka maka saya diupgrade kamar tanpa tambahan charge. Jadi saya seharusnya tidur sekamar ber-4 di female dorm, tapi kemudian diupgrade ke twins room dong yeayy!! Rejeki anak soleh. Review saya tentang hostel ini lumayan oke ya, shared bathroomnya rata-rata di dalam kamar jadi gak perlu keluar-keluar kamar dulu, kamar mandinya juga bersih dan ada air hangat, wifi lumayan kencang dan ada sarapan paginya, dan untuk ukuran hostel sarapannya lumayan variatif. Staf resepsionisnya juga ramah dan helpful semua. Hanya saja lokasinya emang agak kurang strategis, ke stasiun Groenplaats bisa dijangkau dengan jalan kaki sekitar 15 menitan. Dan kamarnya juga gak kedap suara, jadi kalau ada yang ribut-ribut di lorong kedengaran banget di kamar. Saya menginap di sini 2 malam dengan rate €56 atau sekitar 896k (kurs 16ribu).

Habis naruh semua barang di kamar saya bergegas ke luar, jalan-jalan ke Groenplaats sambil cari makan. Karena saya baru ingat belum makan dari pagi. Saya mencoba Belgian fries yang sepertinya paling terkenal di Antwerp karena antriannya panjaaangg banget, namanya Frites Atelier yang berlokasi di Korte Ghastuisstraat.

Belgian friesnya serupa tapi tak sama dengan Manekin Pis. Di sini ada sih yang cuma diguyur saus pilihan, tapi ada juga yang pakai topping. Saya memesan Seasonal Special Frites dengan bacon dan saus bernaise seharga €7,50. Agak mahal memang, tapi menurut saya porsinya lebih manusiawi dan topping baconnya benar-benar tebal potongannya (bukan tipis-tipis), selain bacon juga disajikan dengan acar kol dan siracha sauce jadi ada pedes-pedesnya.

Selesai makan lalu saya berkeliling di daerah situ. Karena menjelang Natal jadi emang ramai banget orang pada belanja. Satu yang saya perhatikan di Belgia ini orangnya sepertinya agak relijius karena kita bisa dengan mudah nemuin patung Yesus atau Bunda Maria di pinggir-pinggir jalan atau dinding rumah warga. Dan di sana juga banyak gereja-gereja kece berasistektur gothic. Gak lama berkeliling, udara semakin dingin dan tangan saya mulai beku, lalu saya bergegas pulang untuk mandi air hangat dan istirahat, karena besokannya saya mau eksplor kota Brugges.

Ciao!

Europe Trip – Day 5 (Brugges)

Hari ke-5 saya bangun agak pagian supaya bisa dapat sarapan (yah buat budget traveler kayak saya kalau ada barang gratisan harus dibelain dong, kan lumayan hemat €5 buat sarapan 😚). Sehabis sarapan saya lalu pergi menuju stasiun Groenplaats yang ternyata gak begitu jauh dari hostel karena saya lupa-lupa ingat stopan trem saya berenti kemarin dimana. Daripada nyasar mending yang pasti-pasti aja. Nggak lupa sebelum naik metro saya beli De Lijn day pass ticket dulu di mesin tiket, oiya walau ada yang bundle 3 days pass tapi saya lebih suka beli harian. Mesin tiketnya gampang dipahami karena ada pilihan bahasa Inggrisnya. Saya naik dari Groenplaats turun di Central.

Lalu turun dari Central saya bertanya ke petugas stasiun dimana platform kereta jurusan Brugges, ternyata keretanya ada di platform 1 di lantai atas. Tapi si bapak gak bilang kalau saya butuh tiket kereta antar kota. Ya udah saya pede aja dong langsung masuk di kereta yang diparkir, tapi abis itu perasaan saya gak enak, saya tanyalah sama mbak-mbak bule penumpang kereta yang duduk di kursi depan saya, saya bilang apa untuk naik kereta ini bisa pakai kartu De Lijn? Dia bilang, gak bisa kamu harus beli tiket lagi di mesin tiket di bawah (dia tunjukin tiket keretanya yang mirip tiket kereta antar kota di Indonesia). Ya udah akhirnya saya keluar kereta lagi dan ke bawah, padahal kereta berangkat 10 menit lagi. Saya pikir cukup lah kan cuma beli tiket doang. Tapi ternyata salah, pas saya coba beli tiket di mesin ternyata mesinnya cuma bisa nerima uang koin atau cc, gak bisa terima bank notes. Saya panik karena ternyata uang koin saya gak ada €16, terus saya tanya mas-mas bule manis berkacamata yang dengan sabar ngantri di belakang saya “is this machine accepting bank notes?” Dia bilang “i dont think so, if you wanna pay with bank notes you can buy on ticket office in the front”. Langsung deh saya lari ke depan, eh ternyata masih harus ngantri. Pas giliran saya, langsung bilang “return ticket to Brugges please” untung bapaknya kerjanya cepet, ketik-ketik, print, bayar, selesai. Saya langsung lari ke platform 1 di lantai atas, tapi nasib baik gak berpihak ke saya, karena tinggal beberapa langkah lagi pintu keretanya udah ditutup otomatis dan pelan-pelan bergerak meninggalkan stasiun. Yah lemes deh.

<<
arena kesel, dan kalau saya kesel biasanya langsung mendadak laper ya udah lah saya pergi ke cafe di dekat platform kereta yang bernama Le Royal Brasserie. Dari luar sih cafenya kayak rada fancy gitu, cuma ya udah lah nekat aja masuk sekalian numpang nyolok gadget. Cafenya ternyata dalemnya bagus, interiornya klasik gitu.

<

aya memesan Italian Cappucino (€3) dan Bitterballen (€7,5). Bitterballennya enak, disajikan masih panas-panas langsung dicocol ke mustard. Hmm nyamm..gak terasa 8 biji tiba-tiba ludes. Italian cappucinonya juga enak, kopinya lebih mild dan creamy.

<<
arena saya masih penasaran saya coba beraniin diri nyapa ibu-ibu yang duduk di meja sebelah "pardon mam, you speak English?" Dia bilang "yes i can speak little English". Saya ngeluarin tiket kereta berbahasa Belanda dan bertanya "could you translate it for me, is it still can be used for the next train cause i missed the earlier one", dia baca sebentar dan bilang "yes sure, you still can use it anytime but only today". Legaa deh, ternyata saya gak harus beli tiket baru. Secara mahal ya bok, bisa skip makan siang kalau pakai acara beli tiket baru hehehe.. Setelah mengucapkan terima kasih dan memanggil pelayan untuk membayar, saya bergegas ke platform lagi nunggu kereta selanjutnya biar gak ketinggalan lagi.

Jarak dari Antwerp ke Brugges ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Gak banyak yang bisa dilihat sepanjang perjalanan karena country side di Belgia sedikit mirip dengan Australia, yang mana sedikit membosankan buat saya. Kereta sempat molor sedikit karena sebelum stasiun Gent, kereta kami harus menunggu cukup lama untuk bergantian dengan kereta lain, karena ada gangguan rel.

<<
ari stasiun Brugge saya mengambil bis menuju pusat kota, tadinya tujuan saya mau ke Markt Plaats, tapi kemudian saya turun random di tengah jalan dan berkeliling dengan jalan kaki. Saya akui Brugge memang kota kecil yang bagus, banyak kastil-kastil, bangunan tua yang vintage dan kanal-kanal cantik, yang pasti semuanya instagram material banget! Saya hanya berkeliling dan masuk ke beberapa toko.

Capek berkeliling saya kemudian nyobain makan Belgian waffle, emang kalau ke Belgia jangan sampai gak nyobain coklat,waffle dan friesnya. Saya beli random di toko waffle pinggir jalan yang saya lupa namanya. Pokoknya dia punya toko ada display waffle di depannya.

<<
aya memesan waffle dengan fresh berries dan hot chocolate seharga €6,50. Wafflenya disajikan hangat karena emang baru dibikin kalau ada yang pesan. Saya sangat terkesan dengan pelayannya yang bilang "enjoy! I made this special for you" mungkin karena saya satu-satunya turis bermuka Asia di tempat itu 😁

Sambil makan waffle saya jalan lagi muter-muter, sampai saya menemukan restoran Thailand dan memutuskan untuk makan siang yang kesorean di sana. Nama restorannya Thai Zen. Sebenernya disekitar situ ada beberapa resto Jepang juga tapi pas saya kesana ada yang tutup karena hanya buka pas jam makan aja. Kalau di luar negeri bukan hal yang aneh restoran hanya buka saat jam makan siang dan malam, sedangkan sorenya tutup. Kata teman saya yang kerja jadi barista di Sydney sih, biasanya itu untuk menekan cost gaji pegawai karena pelayan di sana rata-rata dibayar per-jam bukan per-bulan seperti di Indonesia.

Di Thai Zen saya memesan nasi (akhirnya ketemu nasi!) dan beef chilli basil (€14,95) serta teh camomile (€3,50). Beef chilli basilnya saya minta ekstra pedas, dan emang pedas banget, daging dan sayurannya lumayan banyak porsinya. Lumayan lah buat perut Asia ini yang baru kenyang kalau makan nasi. Yang unik teh camomilenya ternyata bukan pakai teh teabag, tapi pakai bunga camomile segar yang diseduh dengan air panas. Pengalaman baru nih..

Setelah makan saya berkeliling lagi berjalan kaki sampai ke stasiun bis terdekat, lalu naik bis balik lagi ke stasiun Brugges. Dan kembali ke Antwerp. Sesampainya Antwerp saya memutuskan untuk langsung balik ke hostel dan skip makan malam, selain masih kenyang juga karena saya harus packing untuk pindah ke Perancis besok pagi. Ciao!

Europe Trip – Day 6 (Chambly)

Bis flixbus saya berangkat dari Astridplein sekitar jam 10.30 (telat 15 menit) menuju Paris Bercy Sein. Pagi-pagi saya udah check out, sengaja skip sarapan karena sarapan di hostel baru dimulai pukul 8. Ternyata sampai stasiun Central masih ada waktu 1 jam lalu saya memutuskan untuk sarapan di Starbucks, dengan croissant dan ginger bread latte (total kerusakan sekitar €7). Dari Antwerp ke Paris kira-kira memakan waktu sekitar 4 jam lebih dikit. Sampai di Paris Bercy Sein sekitar jam 2.30pm.

Dari stasiun Bercy Sein saya membeli tiket metro seharga €1.90 menuju Paris Gare Du Nord (stasiun centralnya Paris). Untuk tiket metro ini kamu bisa beli di ticket counter maupun ticket machine yang tersebar di semua stasiun. Cara beli di mesinnya gak sesulit yang saya kira, karena mesinnya rata-rata ada pilihan bahasa Inggrisnya. Kamu bisa beli single ticket (1pcs) atau berapa banyak yang kamu inginkan (sampai 10pcs), atau kalau kamu belinya di counter ticket kamu tinggal sebut saja “carnet ticket” mereka udah tau. Sistem transportasi di Paris secara garis besar seperti Amsterdam, sangat gampang dipahami bahkan untuk orang yang baru pertama kali ke Paris. Oiya kalau kamu beli di mesin tiket bisa dibeli dengan uang koin dan cc, ada juga sih yang nerima uang kertas tapi nggak banyak. Dan tiket metro di sini 1pcs bisa dipakai berkali-kali walau pindah metro asal gak keluar dari stasiun. Ada juga Paris Day Pass tapi saya gak beli itu karena setelah dihitung-hitung lebih hemat beli ketengan. Tapi kalau kamu males ribet bolak balik beli di mesin tiket ya mending beli Day Pass aja di counter ticket. Note that, jangan terima bantuan orang asing yang mau nolongin kamu beli tiket di mesin, karena mereka ini kebanyakan scam. Kalau kamu ragu mending beli aja di counter ticket resmi.

Dari Paris Gare Du Nord saya membeli tiket lagi kereta intercity yang bernama TER seharga €8.80 one way. TER ticket ini melayani rute di luar kota Paris tapi sebatas kota-kota yang ada di state Ille-de-France salahsatunya Chambly. Saya di Chambly numpang tinggal di rumah teman dekat saya jaman kuliah yang menikah dengan cowok Perancis dan udah stay di sana selama 6 tahun.

Dari Paris ke Chambly memakan waktu kurang lebih 45 menit. Sesampainya di Chambly teman saya dan suaminya ternyata telah menunggu di stasiun. Terharu banget akhirnya setelah 5 tahun kami ketemu juga, karena terakhir ketemu sebelum teman ini pindah ke Perancis. Dan beberapa tahun setelahnya, saya menikah dan bolak balik ke Australia. Jadi kadang rencana ketemuan cuma tinggal wacana.

Sampai di rumahnya yang nggak jauh dari stasiun (15menitan jalan kaki atau 5 menitan naik mobil) saya memutuskan untuk mandi dan tidur cepat. Save up energy karena besok saya mau berkeliling kota Paris. Cihuyyy!

Europe Trip – Day 7 (Paris)

Hari ini saya bangun agak kesiangan karena capek dan ngantuk banget rasanya. Mungkin ini yang namanya jetlag, apalagi Eropa dan Indonesia beda 6 jam lebih lambat otomatis saya sering tidur dan bangun lebih cepat (masih ikut jam biologis Jakarta) selama beberapa hari di Eropa. Saya baru berangkat jalan-jalan sekitar jam 11.

Sesampainya di stasiun masih kena masalah lagi, counter ticket buat beli tiket TERnya tutup, padahal teman saya udah nulisin pakai bahasa Perancis di secarik kertas yang saya tinggal tunjukin aja ke petugas loket. Pilihan satu-satunya cuma beli lewat mesin. Sialnya walau mesinnya ada pilihan bahasa Inggris, tetep aja jenis-jenis tiketnya memakai bahasa Perancis yang saya nggak ngerti. Sempet celingak celinguk lama nungguin orang lewat buat minta tolong. Tapi ternyata stasiun hari itu lagi sepi. Akhirnya saya coba-coba sendiri, begitu ketemu tiket yang dimaksud, masalah lain dateng, ternyata mesinnya hanya menerima uang koin dan credit card. Sedangkan uang koin saya gak nyampe €8 dan saya juga ga punya cc, akhirnya muter otak dan pergi ke luar stasiun buat nuker duit, untunglah di belakang stasiun ada coffee shop terus saya kesana beli kopi dan minta pelayannya kembaliannya pakai uang recehan karena saya mau beli tiket di mesin wkwkw…Akhirnya problem solved! Tiket berhasil kebeli 😁

<<
ncananya rute hari ini mau ke Musee de Louvre, Champ Élysées, Arc de Triomph, dan Eiffel Tower. Tapi kemudian rute dirubah karena udah siang dan saya (lagi-lagi) laper karena ga sempat sarapan di rumah teman. Akhirnya saya pergi ke Champ Élysées dulu karena saya mau cobain restoran yang direkomendasiin teman saya, yaitu Leon De Bruxells, Laduree dan Pierre Hermes. Kita mah anaknya gitu, orientasinya makanan ajah wkwkkw..

<<
on de Bruxelles yang di Champ Élysées ini berlokasi nggak jauh dari stasiun metro Champ Élysées yaitu pas di seberangnya toko Sephora. LdB ini sebenarnya restoran Belgia, tapi entah kenapa cabangnya di Perancis lebih banyak daripada di Belgia wkkw (seingat saya di Belgia cuma ada di Brussels). Yang terkenal di sini aneka menunya yang menggunakan mussels/kerang.

<

Saya memesan menu rekomendasi teman yaitu mussels gratin escargot (€18.50), yaitu kerang bumbu pesto, bawang putih, butter dan ditaburi keju permesan lalu dipanggang. Btw ini namanya doang ya yang escargot, karena kata teman saya dinamain gitu karena piringnya pakai piring yang biasa buat nyuguh escargot. Makanan saya disajikan dengan roti baguette dan pretzel yang diberikan sebagai complimentary. Lumayan enak walau kalau kebanyakan eneg juga sih.

<<
bis makan saya kemudian menyusuri Champ Élysées lagi untuk mencari toko macaron Laduree. Kata teman saya, Laduree ini toko macaron pertama yang jual macaron original di Paris. Saya beli 5 pcs berbagai rasa, harga satuannya gak tau tapi yang jelas total kerusakan sekitar €10.50. Macaron Laduree ini cukup enak dan sempurna, luarnya garing tapi dalemnya chewy, rasanya juga gak terlalu manis seperti macaron kebanyakan, plus fillingnya juga terasa banget. Saya rekomendasiin yang rasa buah-buahan itu enak banget macam raspberry atau lemon.

<<
etelah makan di Laduree saya kembali menyusuri Champ Élysées niatnya mau cari toko macaron Pierre Hermes. Sayangnya padahal saya udah ikutin yang ada di google maps tapi sampai dekat Arc de Triomph tokonya tetep gak ketemu, usut punya usut kata temen tokonya itu Arc de Triomph masih lurus kesana lagi 😅 jauhh yaaa…kalau kalian ke Paris, Pierre Hermes mungkin bisa dijadiin alternatif pilihan, kata teman rasanya lebih enak lagi daripada Laduree. Duh kan…jadi pengen balik lagi ke Paris *amin yang kenceng*

Karena gak nemu toko Pierre Hermes, lalu saya akhirnya cuma foto-foto aja di depan Arc de Triomph. Lalu cepet-cepet pindah ke Musee De Louvre karena hari udah mulai sore, takutnya museumnya keburu tutup. Dari Champ Élysées saya naik metro nomor M1 dari stasiun Franklin D Roosevelt ke Musee De Louvre.

Sayangnya sampai Louvre ternyata museumnya tutup setiap hari Rabu, penonton kecewaa. Akhirnya saya cuma foto-foto di depannya aja. Lalu nyeberang jalan dan menunggu bis nomor 69 menuju Rapp-La Bourdonnais, bus stop terdekat ke Eiffel Tower.

Di Eiffel saya cuma foto-foto aja, soanya sekitar situ kayaknya lagi ada renovasi jadi banyak jalan yang ditutup, dan kita harus blusuk-blusuk lewat taman untuk sampai ke Eiffelnya.

Habis foto-foto handphone saya dua-duanya agak low-bat padahal saya harus selalu liat google maps buat cari rute stasiun terdekat untuk pulang. Akhirnya sebelum pulang saya mampir dulu ke Cafe Ribe, yang berlokasi di Avenue de Ruffren 15, nggak jauh dari menara Eiffel.

Di sana saya memesan crepe suzette (€8,50) dan earl grey tea (€5,50). Saya udah lama penasaran sama crepe suzette gegara jaman dahulu kala pernah liat gambarnya di buku resep nyokap, tapi saya belum pernah coba langsung yang saya tau crepenya dikasih sejenis liquor dan sirup jeruk. Penyajiannya lumayan unik ya, karena crepenya begitu dituang saus jeruk yang berliquor langsung disulut api sama pelayannya. Jadi rada flambe2 gitu. Pas dimakan… euwww… kalau kamu suka minum liquor on the rock (not to mention JacD atau Whisky ya, tapi bener-bener dry liquor macam bacardi atau grey goose yang bener-bener pahit gak ada rasanya) ya gitu deh rasanya. Bener-bener kerasa banget liquornya, cukup menganggu sih karena saya gak gitu suka liquor yang rasanya terlalu tebal dan pahit. Akhirnya nggak saya abisin itu crepe suzettenya karena saya gak suka rasanya!

Setelah selesai bayar, saya sempat mampir ke toko souvernir dekat Cafe Ribe, beli oleh-oleh kaos buat suami dan pajangan miniatur Eiffel. Abis itu langsung pulang ke Chambly karena teman saya udah masakin saya spesial masakan tradisional Perancis untuk makan malam.

Ciao!