Cerita Perjalanan Manado – Part 5

Hari kelima sengaja bangun agak siang, karena (tadinya) cuma mau ke Airmadidi dan muter-muter kota Manado aja. Ehh emang dasar anak soleh rejekinya banyak, temen saya @KrisMartina malah nawarin buat nganter jalan-jalan ke tempat-tempat yang saya belum singgahi.

Jadilah hari itu, kami – saya, @KrisMartina, suami dan anaknya – piknik! Pemberhentian pertama adalah RM Nasi Kuning Saroja yang paling legendaris. Di sini Cuma saya yang makan karena Kris dan suaminya udah sarapan.

gadisrakus.wordpress.com

gadisrakus.wordpress.com

Nasi kuningnya pake lauk semacam semur daging yang disuwir-suwir dan kering kentang. Kalo mau bisa ditambah telor rebus bulet gitu. Minumnya es lemon cui aja. Total kerusakan 28k. Baru tau dari Kris kalo bisa minta lauk cakalang rica, hih! Tau gitu pesen yang itu aja, soalnya semur dagingnya manis banget, aku kan udah manis kak L

Laluu perjalanan lanjut ke Es Kacang Miangas, yang terletak di Jl. Sudirman (deket jembatan Miangas).

gadisrakus.wordpress.com

gadisrakus.wordpress.com

Di sini yang spesial ya kalo nggak es brenebon, ya es kacang tanah. Sama sih bentukannya cuma beda kacang aja. Plus ngemil lalampa, pastel isi pampis, onde-onde dan koyabu. Total kerusakan berikut 2 porsi es brenenbon dan 1 porsi es kacang tanah 30k aja. Btw, brenebon di sini beda loh lebih empuk dan manisnya kerasa ampe keubun-ubun, soalnya brenebonnya udah direbus dulu dicairan gula. Endeuss! Wajib ke sini kalo ke Manado.

gadisrakus.wordpress.com

gadisrakus.wordpress.com

gadisrakus.wordpress.com

gadisrakus.wordpress.com

Berikut pemberhentian kita adalah situs waruga di Airmadidi.

gadisrakus.wordpress.com

gadisrakus.wordpress.com

gadisrakus.wordpress.com

gadisrakus.wordpress.com

gadisrakus.wordpress.com

gadisrakus.wordpress.com

Hayoo yang pas sekolah ngambil IPS ngacung! Waruga atau kubur batu ini adalah salahsatu peninggalan purbakala, jadi jaman dulu orang-orang Minahasa kalo nguburin orang meninggal mayatnya dijongkokin ke dalam batu. Karena wabah virus yang dikeluarin dari mayat, sejak abad ke berapa yak saya lupa, akhirnya mereka menghentikan adat kubur batu ini. Oya, setiap “kepala” yang ada di kubur batu itu menunjukan apa profesi mereka sewaktu masih hidup. Terus, seperti budaya Cina, budaya kubur batu Minahasa ini juga menyertakan benda-benda kesayangan si jasad waktu masih hidup, jadi jangan heran kalau di dalem kuburan banyak ditemuin barang-barang seperti keramik dll. Semuanya tersimpan rapi di museum yang terletak nggak jauh dari kuburan.

gadisrakus.wordpress.com

gadisrakus.wordpress.com

Buat yang mau kesini ngeteng, dari Manado ambil mikro ke terminal paal 2 lalu ambil bis yang kearah Bitung, minta turun aja di Desa Sawangan Airmadidi. Letaknya kalo dari pinggir jalan besar nggak terlalu jauh sih, jalan kaki juga bisa.

Abis dari waruga, kita bergerak menuju Tondano. Niatnya sih mau makan siang sambil foto-foto di ‘Dutch House’ yang ada di pinggir jalan yang menuju Tondano.

Kami makan di resto Danau Tondano yang berdiri di atas danau tondano plus pemandangannya itu lohh. Tapi di sini anginnya lumayan kenceng, mending bawa jaket deh kalo nggak mau masuk angin.

gadisrakus.wordpress.com

gadisrakus.wordpress.com

Lagi-lagi makan siang saya hari ini gratis karena ditraktir Kris *peluk kris* Kami memesan menu tengah: ikan mujai bakar pedas, ikan mujair masak woku, kolombi rica, cah kangkung, cak daun pakis dan perkedel jagung. Total kerusakan nggak tau, kan gratiiisss *nyengir*

IMG_0349

Semua makanan di atas kecuali kolombinya (sejenis keong sawah) endeus, soalnya kolombinya bau tanah cem aki-aki *#lah.

Selesai makan kami putar arah menuju ‘Dutch House’, sebenernya ini rumah adat khas Minahasa yang rumah panggung itu loh cuman karena ada cerobong asapnya segala jadi rumah ini keliatan cem rumah-rumah Belanda. Katanya sih ini villa, kece banget!

gadisrakus.wordpress.com

gadisrakus.wordpress.com

Dari situ kami puter balik lagi menuju Tomohon, kali ini yang mau dituju adalah Bukit Kasih dengan kapelnya yang mirip rumah Teletabis. Bukit Kasih ini sebenernya tempat retret yang dipunyain oleh keluarga pengusaha Richard Korompis, dan juga katanya Danau Linow itu yang ngelola mereka juga. Oya untuk masuk kesini per-orang harus bayar 15k ya, dan better sewa kendaraan karena di sini nggak ada mikro lewat.

gadisrakus.wordpress.com

gadisrakus.wordpress.com

gadisrakus.wordpress.com

gadisrakus.wordpress.com

gadisrakus.wordpress.com

gadisrakus.wordpress.com

Jadi pengen nikah di sini ya nggak sih?? (cari lakinya aja dulu keleuusss)

Puas foto-foto, kami bergerak menuju RM Tinoor Jaya yang terletak di Jalan Raya Tomohon, buat menuntaskan rasa penasaran saya akan paniki. Yup! Paniki alias kelelawar, yakali deh udah jauh-jauh kemari malah nggak ngerasain ‘gong’nya 😀

gadisrakus.wordpress.com

gadisrakus.wordpress.com

Panikinya seporsi 50k, tapi boleh minta setengah porsi kok kayak saya kemarin. Dan biasanya nasinya dibungkus pake daun-daun gitu. Kalo ditanya rasa, bumbunya sih enak dimasak santen gitu, dagingnya sendiri lebih mirip ayam dengan serat yang lebih halus. Ini sepertinya akan menjadi pengalaman pertama dan terakhir deh hahahhaaa…

Abis makan langsung balik ke penginapan buat packing.

Advertisements

2 thoughts on “Cerita Perjalanan Manado – Part 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s